Banjarmasin adalah kota yang dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai, karena
banyaknya sungai di wilayahnya. Baik sungai berukuran kecil hingga besar.
Diantara sekian banyak sungai, tampaknya Sungai Barito dan Sungai Martapura lah
yang paling banyak dikenal. Keunikan Sungai Barito dan Sungai Martapura adalah
karena keduanya terdapat pasar terapung.
Sebuah pasar tradisional peninggalan sejarah kerajaan Banjar yang
lokasinya berada di atas sungai. Masing-masing pedagang maupun pembeli
memanfaatkan sebuah sampan kecil (perahu kecil / jukung) untuk melakukan
kegiatan jual beli di sungai. Budaya yang unik tersebut seakan-akan menjadi
magnet untuk berkunjung ke lokasi pasar terapung tersebut.
Di Sungai Barito, pasar terapung bernama Pasar Terapung Kuin. Lokasi nya
berada di sekitar desa Kuin, sebuah perkampungan suku Banjar di tepian Sungai
Barito. Warga Kuin sejak ratusan tahun lalu memiliki ketergantungan terhadap
keberadaan Sungai Barito yang membentang di depan perkampungan tersebut. Banyak
hal yang bisa mereka lakukan di sungai, mulai dari mandi, memancing, alat
transportasi hingga berdagang pun dilakukan di sungai. Tak heran sampan pun
mereka bawa ke sungai, dengan berbagai macam barang dagangan. Umum nya yang
dijual adalah sayur mayur, buah, ikan segar, kue khas Banjar, hingga deterjen
dan kebutuhan rumah tangga lain nya.
Budaya tersebut lestari hingga sekarang ini. Mereka berjualan ketika
banyak warga lain masih terlelap tidur. Tepat setelah sholat shubuh,
masing-masing pedagang akan bergegas mengayuh sampan menuju lokasi berjualan.
Sayur dan buah yang masih segar mereka jajakan disana. Berharap pundi-pundi
rupiah bisa mengalir lancar, seperti aliran sungai dibawah sampan. Mereka
berjualan sejak shubuh hingga sekitar pukul 8 pagi.
Lokasi lain nya ada di desa Lok Baintan, Sungai Martapura. Pasar
terapung di desa ini cenderung lebih ramai pedagang nya. Dan suasana nya lebih
tradisional dan alami. Tak heran banyak wisatawan asing yang lebih memilih
berkunjung ke Pasar Terapung Lok Baintan. Perbedaan lainnya adalah jadwal buka
pasar yang lebih lama, yakni dari pukul 06.30 pagi hingga 09.00 pagi. Jarak
tempuh menggunakan klotok (Perahu Mesin) dari pusat kota adalah sekitar 1 jam
perjalanan. Dengan menyusuri Sungai Martapura.
Sebagian besar dagangan yang dijual di Pasar Terapung Lok Baintan adalah
mirip dengan yang dijual di Pasar Terapung Kuin. Namun jualan di Pasar Terapung
Lok Baintan lebih beragam. Umum nya hasil kebun warga desa Lok Baintan seperti
jeruk Banjar, mangga, pisang, daun singkong, dan sebagai nya. Bahkan ada
pedagang kue terang bulan atau martabak manis yang berjualan disampan lengkap
dengan alat memasaknya. Sangat unik sekali, dimana pengunjung bisa melihat
proses memasak kue terang bulan yang dilakukan di atas sampan kecil.
Pedagang di Kuin maupun Lok Baintan memiliki persamaan lainnya, yakni
penggunaan topi caping. Warga Banjar menyebutnya tanggui. Sebuah penutup kepala
yang mirip tudung nasi, yang terbuat dari daun kelapa kering yang dirangkai
hingga membentuk lingkaran menyerupai topi. Persamaan lain adalah sebagian
pedagang nya menggunakan bedak tradisional yang terbuat dari beras. Bedak
tersebut bernama pupur dingin, sebuah metode tradisional suku Banjar dalam
menangkal panas matahari. Pupur dingin itu dioleskan pada bagian wajah. Jika
sudah mongering, warna nya akan menjadi putih. Sehingga bagi si pemakainya,
akan seperti mengenakan masker kecantikan pada wanita di perkotaan.
Di Lok Baintan ada keunikan yang tak dimiliki oleh Kuin, yakni sistem
barter. Sebagian pedangan dan pembeli tidak memberlakukan mata uang rupiah,
namun mereka cukup saling menukarkan kebutuhan dengan barang lain yang telah
disepakati bersama. Misal menukarkan buah pisang dengan sayur daun singkong.
Disini sangat diperlukan keikhlasan dan kesepakatan bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar