Sejarah Kota Banjarmasin bermula dari sebuah perkampungan dataran rendah
bernama "Banjarmasih" yang ditahbiskan pada tanggal 24 September 1526
dan ditetapkan sebagai hari jadi Kota Banjarmasin. Banjarmasih adalah nama
kampung yang dihuni suku melayu yang dikenal sebagai Oloh Masih yang di pimpin
oleh Patih Masih yang nama sebenarnya
tidak diketahui.
Pada abad ke-16 muncul Kerajaan Banjarmasih dengan raja pertama Raden
Samudera, seorang pelarian yang beragama Hindu yang terancam keselamatannya
oleh pamannya Pangeran Tumenggung yang menjadi raja Kerajaan Negara Daha sebuah
kerajaan Hindu di pedalamam (Hulu Sungai). Pada 24 September 1526 bertepatan
tanggal 6 Zulhijjah 932 H, Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan
Suriansyah (1526-1550). Kerajaan Banjarmasih berkembang pesat, Sultan
Suriansyah digantikan anaknya Sultan Rahmatullah 1550-1570, selanjutnya Sultan
Hidayatullah 1570 -1620 dan Sultan Musta'inbillah 1520-1620.
Pada tahun 1596, Belanda merampas 2 jung lada dari Banjarmasin yang
berdagang di Kesultanan Banten. Hal ini dibalas ketika ekspedisi Belanda yang
dipimpin Koopman Gillis Michaelszoon tiba di Banjarmasin tanggal 7 Juli 1607.
Tahun 1612, armada Belanda tiba di Banjarmasih untuk membalas atas ekspedisi
tahun 1607. Armada ini menyerang Banjarmasih dari arah pulau Kembang dan
menembaki Kuin ibukota Kesultanan Banjar sehingga Banjar Lama atau kampung
Keraton dan sekitarnya hancur, sehingga ibukota kerajaan dipindahkan dari
Banjarmasin ke Martapura. Banjar Lama (Kuin) bekas ibukota pertama Kesultanan
Banjar, tetap menjadi wilayah Kesultanan Banjar hingga digabung ke dalam Hindia
Belanda tahun 1860.
Pada tanggal 11 Juni 1860 Kesultanan Banjar dihapuskan, perlawanan
rakyat di pedalaman Barito berakhir dengan gugurnya Sultan Muhammad Seman pada
24 Januari 1905. Kedudukan golongan bangsawan Banjar sesudah tahun 1864,
sebagian besar hijrah ke wilayah Barito mengikuti Pangeran Antasari, sebagian
lari ke rimba-rimba, antara lain hutan Pulau Kadap Cinta Puri, sebagian kecil
dengan anak dan isteri dibuang ke Betawi, Bogor, Cianjur dan Surabaya, sebagian
mati atau dihukum gantung. Sementara sebagian kecil menetap dan bekerja dengan
Belanda mendapat ganti rugi tanah, tetapi jumlah ini amat sedikit.
Pada tahun 1938, Kalimantan menjadi gouvernorment Borneo yang terdiri
dari Karesidenan Borneo Barat dan Karesidenan Selatan serta Timur Borneo yang
beribukota di Banjarmasin dengan Gubernur A. Haga. GemeenteBanjarmasin
ditingkatkan dengan Stads Gemeente Banjarmasin. Sejak adanya Provincial Raad
(Banjar Raad) mulai Agustus 1938, wakil Kalimantan dalam Volksraad adalah
Pangeran Muhammad Ali, selanjutnya digantikan oleh anaknya, yaitu Ir. Pangeran
Muhammad Noor (1935-1938), kemudian digantikan Mr. Tajuddin Noor (1938-1942).
Masuknya Jepang dari Kalimantan Timur ke wilayah Kalimantan Selatan
tanggal 6 Februari 1942 di Bongkang. Tanggal 8 Februari 1942, tiga buah kapal
KPM masuk Banjarmasin untuk evakuasi massa Belanda ke pulau Jawa. Pada saat
kapal terakhir berangkat, Algemene Vernielings Corps (AVC), yaitu korps perusak
melaksanakan tugas bumi hangus agar fasiltas yang ada tidak digunakan oleh
Jepang, Banjarmasin menjadi lautan api.
Gubernur A. Haga dan pejabat terasnya dari Jepang lari ke Kuala Kapuas,
selanjutnya ke Puruk Cahu dalam rencana perang gerilya untuk kelak merebut
Banjarmasin kembali yang sudah tentu tidak mungkin didukung oleh rakyat
jajahan. Apa yang tertinggal dari kebanggaan Kompeni tidak ada lagi. Kerusuhan
menjalar, terjadi penjarahan terhadap gudang-gudang firma dan rumah Belanda,
pertokoan dan Grand Hotel. Pasar Baru terbakar pada malam harinya.
Dengan persetujuan wali kota H. Mulder, orang-orang Indonesia membentuk
pemerintahan Pimpinan Pemerintahan Civil (PPC), diketuai Mr. Roesbandi. Tanggal
10 Februari 1942, wali kota Banjarmasin H. Mulder, Ruitenberg (Kepala Polisi)
dan Muelmans menjalani hukuman tembak oleh bala tentara Jepang di tepi Jembatan
Coen yang telah diputus AVC. Pada tanggal 12 Februari 1942, Jepang mengeluarkan
maklumat, Banjarmasin dan daerahnya dibawah PPC. Para Kiai (kepala distrik)
diangkat kembali ke posnya masing-masing.
Tanggal 17 Maret 1942, Jepang membawa Kapten van Epen kembali ke Puruk
Cahu untuk melucuti dan melakukan penyerahan diri pihak militer dan
pemerintahan sipil Belanda. Tanggal 18 Maret 1942, Kiai Pangeran Musa Ardi
Kesumadiangkat sebagai Ridzie membawahi daerah Banjarmasin, Hulu Sungai dan
Kapuas-Barito serta wakil Ridzie ditunjuk dr. Sosodoro Djatikoesoemo, sedangkan
Wakil Ketua "Gemeente Banjarmasin" yang disebut Haminta adalah Mr.
Roesbandi.
Menjelang akhir kekuasaan Jepang, banyak romusha berupa manusia
berkerangka berbalut kulit penuh koreng, para gadis belia asalJawa maupun
Kalimantan Selatan sendiri yang dijadikan jugun ianfu[ seperti yang dialami
Mardiyem (Momoye) dan Soetarbini (Miniko) yang didatangkan dari Yogyakarta ke
Banjarmasin ketika berusia 13 tahun dipaksa dalam perbudakan seks. Sampai di
ian jo Telawang mereka tempatkan dalam kamar-kamar yang bertuliskan nama-nama
dalam bahasa Jepang, sepanjang hari melayani kebutuhan seks para militer dan
sipir Jepang. Penderitaan Mardiyem selaku saksi hidup peristiwa tersebut telah
dibukukan dalam Momoye Mereka Memanggilku. Di Banjarmasin sedikitnya terdapat 3
buah ian jo (asrama jugun ianfu).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar