Selamat malam sobat, lagi nyari bahan untuk di posting nih tapi bingung
apa yang mau di posting. Mikir dan mencari,, liat dan melihat,, kayaknya bagus
nih untuk di posting. Membahas rumah adat Banjarmasin Kal-Sel yang merupakan
salah satu peninggalan bersejarah yang
hampir terlupakan di makan waktu dan kemajuan teknologi, mungkin tidak banyak yang
tau tentang rumah adat yang satu ini, oleh karena itu untuk membuka kembali
pengetahuan tentang ini saya akan membahasnya. hehehe...
Rumah Bubungan Tinggi adalah salah satu rumah tradisional suku Banjar
(rumah Banjar) di Kalimantan Selatan dan bisa dibilang merupakan ikonnya Rumah
Banjar karena jenis rumah inilah yang paling terkenal karena menjadi maskot
rumah adat khas provinsi Kalimantan Selatan. Di dalam kompkles keraton Banjar
dahulu kala bangunan rumah Bubungan Tinggi merupakan istana kediaman raja
(bahasa Jawa: kedhaton) yang disebut Dalam Sirap (bahasa Jawa: ndalem).
Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16,
yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian
memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan
gelar Panembahan Batu Habang.
Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama
Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620.
Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini memiliki konstruksi
berbentuk segi empat yang memanjang ke depan. Namun dalam perkembangannya
bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan
bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran
sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi.
Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tamapak menempel (dalam
bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar.
Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung;
sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah
Ba-anjung.
Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton
Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai
bentuk bangunan lain.
Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan
kayu. Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan
bahan konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu.
Sesuai dengan bentuk serta konstruksi bangunan rumah adat Banjar
tersebut maka hanya kayulah yang merupakan bahan yang tepat dan sesuai dengan
konstruksi bangunannya.
Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa
bagian, yaitu :
Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :
Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada
umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu
itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal.
Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik
rumah sendiri; sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda.
Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah
dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil.
Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran
panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga,
layang-layang puncak dan lain-lain.
Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat Banjar pada
umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter dan lebar
anjung masing-masing 5 meter.
Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter yaitu kolong di bawah anjung
dan palidangan; sedangkan jarak lantai terendah rata-rata 1 meter, yaitu kolong
lantai ruang palatar.
Tata ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi membedakan adanya tiga
jenis ruang yaitu ruang terbuka, setengah terbuka dan ruang dalam.
Ruang terbuka terdiri dari pelataran atau serambi, yang dibagi lagi
menjadi surambi muka dan surambi sambutan.
Ruang setengah terbuka diberi pagar rasi disebut Lapangan Pamedangan.
Sedangkan ruang dalam dibagi menjadi Pacira dan Panurunan (Panampik
Kacil), Paluaran (Panampik Basar), Paledangan (Panampik Panangah) yang terdiri
dari Palidangan Dalam, Anjung Kanan dan Anjung Kiwa, serta Panampik Padu
(dapur).
Secara ringkas berikut ini akan diuraikan situasi ruang dan
kelengkapannya;
Surambi
Di depan surambi muka biasanya terdapat lumpangan tempat air untuk
membasuh kaki. Pada surambi muka juga terdapat tempat air lainnya untuk
pembasuhan pambilasan biasanya berupa guci.
Pamedangan
Ruangan ini lantainya lebih tinggi, dikelilingi pagar rasi. Biasanya
pada ruang ini terdapat sepasang kursi panjang.
Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil)
Setelah masuk Pacira akan didapatkan tanggui basar dan tanggui kacil di
arah sebelah kiri, sedangkan arah sebelah kanan terdapat pengayuh, dayung,
pananjak dan tombak duha. Di sayap kanan ruangan terdapat gayung, sandal dan
terompah tergantung di Balabat Panurunan. Sebagai perlengkapan penerangan dalam
ruangan ini terdapat dua buah lampu gantung.
Paluaran (Panampik Basar)
Ruangan ini cukup besar digunakan untuk berbagai kegiatan keluarga dan
kemasyarakatan apabila masih kekurangan ruang Tawing Halat yang memisahkan dengan
Palidangan dapat dibuka. Di bagian tengah di depan Tawing Halat ini terletak
bufet. Di atasnya agak menyamping ke kiri dan ke kanan terdapat gantungan
tanduk rusa. Di tengah ruangan terdapat dua buah lampu gantung. Lantainya
diberi lampit dan kelengkapan bergerak seperti paludahan, kapit dan gelas,
parapen, rehal.
Palidangan (Panampik Panangah)
Ruangan ini terdiri dari Paledangan Dalam dan Anjung Kiwa - Anjung
Kanan. Fungsi ruang sama dengan Paluaran, namun biasanya diperuntukkan bagi
kaum wanita. Di sini terdapat kelengkapan lemari besar, lemari buta, kanap,
kendi. Lantainya diberi hambal sebagai alas duduk.
Anjung Kanan - Anjung Kiwa
Ruang Anjung Kanan merupakan ruang istirahat yang dilengkapi pula dengan
alat rias dan perlengkapan ibadah. Sedangkan Anjung Kiwa merupakan tempat
melahirkan dan tempat merawat jenazah. Di sini juga di beri perlengkapan
seperti lemari, ranjang, meja dan lain-lain.
Padu (dapur)
Di samping untuk tempat perlengkapan masak dan kegiatannya, ruang padu
ini juga digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Perlengkapan umum yang
terdapat di dalamnya adalah dapur, rak dapur, pambanyuan, lemari, tajau, lampit
dan ayunan anak.
Bentuk arsitektur dan pembagian ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi
mempunyai kesamaan prinsip antara satu dengan lainnya, dengan
perbedaan-perbedaan kecil yang tidak berarti.
Dari sini dapat dilihat bahwa rumah tradisional Bubungan Tinggi tersebut
mempunyai keterikatan dengan nilai tradisional masyarakatnya.
Jadi meskipun pada awalnya bentuk tersebut dimaksudkan untuk memenuhi
tuntutan fungsi dan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi karena sifatnya yang
berulang-ulang kemudian dari bentuk fungsional tersebut berubah menjadi bentuk
yang tradisional.
Sy berharap pada jaman sekarang yang sekarang yang udah hampir melupakan bangunan bersejarah yang menjadikan Icon Budaya Kaliamantan Selatan dapat di jaga dan di lestrarikan sehingga bangunan ini tidak menghilang dan dapat dipelajari tentang sejarahnya, dikunjungi bangunannya dan dikenang selamanya..... hhehehehehe
Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Banjar
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar